9 am to 5 pm

Monday to Friday

Kawasan Bisnis Granadha 12B Fl

Jl. Jend Sudirman Kav 50, Jakarta

(021) 25539388

cs@krproperty.id

Compare Listings

How to survive as an agent

How to survive as an agent

“Alvin, saya telah menerima penawaran harga dari marketing apartemen X, dan setelah saya pertimbangkan harga dengan layoutnya, yang ini lebih cocok dengan apa yang saya inginkan. Saya sangat berterimakasih atas waktu Alvin, sayang kita belum jodoh transaksi. Thanks again Alvin, mudah-mudahan our path will cross again…”

 whatsapp message dari 0812 – xxx – xxx

Saya masih ingat di tahun 2014 ketika saya menerima pesan ini. Saya masih ingat bagaimana rasanya. Tulang-tulang ini serasa lemas setelah membaca pesan singkat itu. Setelah membawa ke 4 lokasi apartemen, saya harus menyesali keterlambatan saya memberikan respon ketika dulu Bp Joni ini (bukan nama sebenarnya) menanyakan satu apartemen baru di wilayah Kuningan. Apa yang tidak saya tawarkan, itulah yang dia pilih. Terlalu terfokus dengan stock listing yang ada di data kita adalah penyakit klasik. Bahkan broker-broker berpengalaman dengan jam terbang yang panjang pun, seringkali tidak peka dengan apa yang dibutuhkan oleh klien.

Klien tersebut akhirnya membeli sebuah apartemen seharga Rp 6 milyar dengan komisi developer sebesar 2.5%. 150 juta rupiah pun melayang.

Menjual itu sulit. Siapa bilang mudah? Dan bagi seorang broker, seringkali anda menghadapi situasi dimana jikalau anda tidak menjual bulan ini, anda belum tentu bisa survive bulan depan. Saya sangat bisa memahami perasaan itu.

Kalau begitu bagaimana bisa survive? Pelajari strategi ini dan terapkan.

1. Sell everything

Strategi pertama untuk bertahan adalah jangan hanya jadi agen yang mau menjual properti yang sudah menjadi spesialisasi anda saja. Hanya fokus pada spesialisasi anda memang membuat anda nyaman, karena anda sudah tahu betul hal itu. Tetapi terlalu sempit juga bisa membuat anda seret. Kebanyakan agen yang berspesialisasi di secondary properti enggan menjual primary properti. Tetapi jangan seperti itu. Jual juga primary properti. Jual juga properti luar negeri. Jual properti apa saja yang anda punya kesempatan untuk menjualnya.

Jual primary properti, bukan hanya secondary properti. Itu strategi pertama untuk bertahan.

2. Dapatkan dukungan asisten.

Strategi kedua adalah memiliki asisten. Agen properti yang sukses, pasti punya asisten. Tidak mungkin bisa one man show. Anda membutuhkan orang yang secara rutin memeriksa iklan-iklan anda di internet dan merefreshnya secara berkala. Buat apa punya iklan jikalau itu muncul di halaman 10 rumah123? Siapa yang akan baca iklan anda? Dan kalau tidak ada yang baca iklan anda, siapa yang akan menghubungi anda? Dan kalau tidak ada yang menghubungi anda, bagaimana bisa jualan?

Refresh iklan secara berkala ini penting sekali. Sangat krusial. Karena tanpa “public appearance” iklan anda tidak ada gunanya. Ntah bagaimana anda mau melakukannya, satu hal yang menentukan anda bisa survive atau tidak di bisnis ini adalah memiliki iklan yang selalu terlihat di publik.

3. Dapatkan passive income.

Strategi ketiga untuk bertahan sebagai broker adalah memiliki passive income. Ada ungkapan mengatakan “dont die broke as broker“. Menjadi agen properti itu punya satu kekurangan utama. Income anda hanya dari satu sumber. Anda hanya sebaik transaksi terakhir anda. Jikalau anda tidak menjual, maka anda tidak punya pendapatan. Hidup seperti ini beresiko. Apakah anda bisa berjualan sendiri sampai tua? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan anda? Bagaimana kalau anda tidak bisa showing, tidak bisa pergi melisting, tidak bisa menghasilkan uang? Siapa yang akan membiayai kebutuhan keluarga anda?

Itu sebabnya strategi ketiga untuk bertahan hidup sebagai broker properti adalah memiliki passive income. Apabila anda sudah punya cukup uang yang bisa anda investasikan untuk membeli properti dan mendapatkan passive income dari sewa, ada mungkin bisa tenang hidupnya.

Tetapi bila belum punya properti sendiri, anda membutuhkan kantor properti yang bisa menyediakan passive income itu untuk anda.

4. Maksimalkan pendapatan anda

Strategi keempat untuk bertahan adalah dengan memaksimalkan pendapatan anda. Ini berarti jikalau anda bisa mendapatkan 70% komisi misalnya, mengapa harus 50%? Well, anda sudah bersusah payah untuk menjual. Anda beriklan, anda bolak balik showing, anda membayar semua biaya transportasi anda, dan ketika pada akhirnya anda closing, anda harus membagi setengahnya ke kantor anda.

Membagi setengah berarti anda harus bekerja dua kali lebih keras dengan dua kali keberuntungan untuk mendapatkan penghasilan yang sama dengan mereka yang tidak perlu membagi apapun.

Kunci untuk sukses sebagai agen properti adalah dengan memiliki mental pengusaha, bukan mental agen. Seorang pengusaha akan menghitung biaya, resiko dan potensi keuntungan dari sebuah usaha.

Ini berarti jikalau biaya-biaya operasional untuk menjadi agen itu masih bisa anda tanggung sendiri, tanggunglah itu sendiri. Logikanya begini lebih baik anda membayar Rp 2 juta rupiah per bulan untuk operasional tetapi menerima Rp 70 juta pendapatan. Daripada anda hanya membayar Rp 1 juta rupiah per bulan untuk operasional, namun juga hanya menerima Rp 50 juta pendapatan.

Kunci untuk sukses sebagai agen properti adalah dengan memiliki mental pengusaha bukan mental agen.

Jikalau anda menjual semuanya, memiliki asisten, memiliki pasive income dan juga mendapatkan bagian yang besar dari hasil jerih payah anda, maka anda membuat resiko hidup anda lebih mudah dikelola dan peluang anda untuk menjadi berhasil di bisnis ini…..juga menjadi semakin besar.

Good luck in trying !

Related posts

Ini 4 kesalahan yang dilakukan agen properti

Terlalu fokus pada pembeli bukan penjual, adalah contoh kesalahan yang umum dilakukan oleh broker properti. Baca 4 kesalahan yang harus dihindari oleh agen properti.

Continue reading

Tips jual cepat properti

Ketika anda hendak menjual atau menyewakan properti, ujung tombak dari lakunya properti anda adalah agen properti. Itu sebabnya jangan salah memilih agen, dan jangan pula menunjuk semua agen.

Continue reading